attendant la lune dans la soumission Dieu Allah je me rends

Aliran??


Kuawali kalimat kalimat ini dengan sebaris syukur pada Rabb ku. Pengatur nafas dan alur hidupku. Pemberi rahmat yang selalu memeluk jiwa jiwa ini dalam kehangatan islam dan iman. Perengkuh kalbu kala ia tergores dan terluka.
Aku, seonggok makhluk yang dicipta dengan sebaik baik bentuk. Ya, seonggok saja. Itu karena aku masih memiliki kurang dan alpa. Kurang dan alpa yang datang dari kelemahan kelemahan ku sendiri. Ah. Tak mengapa.
Pernah, suatu waktu. Saat fikirku melayang diterpa gelombang rintangan ku saksikan aliran air menerjang bebatuan. Kutanyakan pada diri, mengapa mereka begitu enjoy?? Tak sakitkah kalian wahai air??
Mungkin itu takdir mereka. Tak peduli sakit atau sembilu yang dirasa, toh mereka tetap harus melalui jalan yang sama. Jalan yang telah tertulis untuk kehidupan mereka.
Bagiku, hidup ini sama seperti aliran air yang deras. Terserah, aliran sungai, parit, atau apalah.. yang penting jalan air. Haha. Mengapa? Ya karena kita harus melewati semua takdir kita dengan tabah. Dalam aliran kehidupan kita, semua yang menjadi halangan dalam jalur yang telah Allah tetapkan lazim kita lalui.
Terserah engkau bagaimana melaluinya. Dengan iman atau tanpanya. Toh kelak kau akan sampai pada muara yang Allah tetapkan. Tereserah Ia hendak memasukkan kita ke tempat orang orang beriman kembali atau ketempat orang orang yang kufur. Tapi, aku hanya ingin bertanya, apakah iman tak dapat diperjuangkan?? Hingga seolah olah kita diberi kesempatan untuk memilih tempat kembali yang kita ingini???
Aku ingin jujur kawan. Mengapa aku terkadang merasa tertuntut dalam bersikap. ‘Mereka’ menuntutku dengan kasar dan tak sopan! Aih...
                Bagaimana aku melalui batu batu yang tersebar dihadapan aliran kehidupan ini? Ya. Aku tau bagaimana menjawabnya. Kupilih cara pertama mungkin itu pikiran kalian. Tapi taukah?? Realita menggenggam kesabaran dan iman itu sangat menyakitkan. Ah. Aku tak ingin melukiskannya terlalu dalam. Mungkin kalian lebih berpengalaman.

                Maaf membuat kalian menekuni aksaraku hingga sejauh ini kawan. Meski ada yang berkomentar buruk tentangnya, aku tak risau. Biarkan aku menghargai barisan kalimat yang mengganjal dada ini. Sudah cukup bagiku berbagi beban dengan diri sendiri. Kurasakan setiap hari, Rabbnya selalu menambah rasa tabah. Ah, semoga abadi hingga akhir nanti.

0 komentar:

Posting Komentar