Detik demi detik berlalu,
menggulirkan takdir demi takdir kehidupan. Masih teringat saat pertama kali
kita dipertemukan, menghapal wajah wajah kalian tak terlalu sulit kulakukan.
Kemudian waktu masih saja terus bergulir, dan kita disatukan dalam sebuah
kebarsamaan. Memahami keberagaman sifat kalian menjadi pekerjaanku setiap
waktu. Saat itu kita bagaikan sekaleng bubble gum yang berwarnawarni,
dan beragam rasa yang dipajang di etalase teratas oleh penjual makanan ringan,
menanti saat toko dibuka, dan kita akan diambil oleh pembeli. Masa penantian
itulah kebersamaan kita kawanku.
Saat hari hari terkadang terang
dan cerah, kita saling memamerkan keceriaan diwajah kita, berusaha saling
membagi kebahagiaan. Namun suatu waktu, ada hari hari yang gelap, karena
pemilik toko lupa menyalakan lampu tokonya. Saat hari hari seperti itu, aku
melihat sebagian dari kami menahan rona mendung dalam wajah wajah kami. Mungkin
menahan agar gerimis tak turun dari kelopak kelopak mata indah itu. Agar tak
menularkan banjir kesedihan pada yang lain. Kejadian demi kejadian, tawa dan
air mata yang bergantian membuat kami menjadi lengket satu sama lain. Banyak sekali
kisah kisah yang tak mampu dirapal oleh jemariku yang terjadi diantara hari
hari kami di sana. Hingga tak terasa, kebersamaan kami saat itu masih berada
pada dimensi waktu yang senantiasa bergulir dan berlalu.
Suatu hari yang dijanjikan
datang. Ya, hari saat toko akan dibuka. Hati kami bergetar sesaat. Tak
membayangkan bagaimana kami akan berpisah, dunia yang akan kami masuki nanti,
dan masihkah kita bisa bersua. Keraguan masih membayang, saat satu persatu diri
kami diambil oleh para pembeli. Saat satu persatu pergi, hatiku terasa sangat
sakit seperti ditusuk tusuk, tapi lisan dan ragaku kelu. Air mataku sulit
keluar, bahkan untuk merembes pun ia tak bisa. Dalam sehari, separuh lebih dari
kami sudah laku, semua sudah pulang ketempat yang telah Rabb kami takdirkan.
Hari hari berikutnya kami semakin berkurang. Terakhir kali saat aku di sana,
aku mendului beberapa kawanku yang lain. Ya, sebagai bubble gum aku juga
segera diambil oleh pembeli. Aku juga berpisah dengan mereka. Aku juga
meninggalkan toples tempat kebersamaan kita.
Waktu belum membeku, ia masih
mengalir mendimensi seluruh ruang hidupku. Setelah keluar dari toples, aku
enggan mengiaskan diri dan teman temanku sebagai bubble gum lagi. Kini
kami menjadi manusia saja. Biarkan kisah bubble gum berakhir di hari
terakhir perjumpaan kita.
Walau kisah bubble gum sudah berakhir, kisah kita
belum berakhir. Kini aku tau, tiap tiap dari kami sedang berjuang di dunia
“lain”. Memperjuangkan apa yang disebut sebut manusia sebagai kehidupan, atau
masa depan. Terserah, kehidupan dan masa depan siapa. Tapi sepertinya, dulu
kita berjanji pada “pemilik toko”? ah bukan! Bukan pemilik toko. Tapi kami
berjanji pada seseorang yang telah mendidik kami dan menyatukan hati hati kami,
untuk memperjuangkan kehidupan dan masa depan keyakinan kami di “dunia” lain
ini. Masa depan dan keberlangsungan keyakinan yang tak dapat kami gadai dengan
apapun! Bahkan dengan seisi dunia dan seluruh perhiasannya....!
Para “pembeli” bubble gum
lah yang menjadi guide serta pengasuh sejati kami. Kini beban kami banyak. Tapi
diantara beban beban itu ada yang bisa ku muat dalam tulisan di sini. (Apa??)
Ah, tak jadi saja jika begitu. Biarlah ku utarakan sebuah gejolak yang merusak
tatanan rapi beban beban yang wajib segera kami selesaikan itu. Gejolak apa
selain gejolak rindu yang bisa meluluh lantakan serentetan kesibukan kami di
dunia “lain” ini coba?? Hhhh.. jelas tak ada. Ya, hanya rindu namanya. Dialah
pengacau schedule kesibukan dan beban kami.
Ah,, cukup sekian. Biar kalian
lanjutkan sendiri kisah kami ini. Kisah yang kan ku beri judul “Dimensi
Pemersatu” ini. Dimensi pemersatu hati hati kami saat jarak dan waktu menjauhkan
kami. Ya dialah rindu, sang pemersatu.

0 komentar:
Posting Komentar