attendant la lune dans la soumission Dieu Allah je me rends

Dimensi Pemersatu (part one)


Detik demi detik berlalu, menggulirkan takdir demi takdir kehidupan. Masih teringat saat pertama kali kita dipertemukan, menghapal wajah wajah kalian tak terlalu sulit kulakukan. Kemudian waktu masih saja terus bergulir, dan kita disatukan dalam sebuah kebarsamaan. Memahami keberagaman sifat kalian menjadi pekerjaanku setiap waktu. Saat itu kita bagaikan sekaleng bubble gum yang berwarnawarni, dan beragam rasa yang dipajang di etalase teratas oleh penjual makanan ringan, menanti saat toko dibuka, dan kita akan diambil oleh pembeli. Masa penantian itulah kebersamaan kita kawanku.
Saat hari hari terkadang terang dan cerah, kita saling memamerkan keceriaan diwajah kita, berusaha saling membagi kebahagiaan. Namun suatu waktu, ada hari hari yang gelap, karena pemilik toko lupa menyalakan lampu tokonya. Saat hari hari seperti itu, aku melihat sebagian dari kami menahan rona mendung dalam wajah wajah kami. Mungkin menahan agar gerimis tak turun dari kelopak kelopak mata indah itu. Agar tak menularkan banjir kesedihan pada yang lain. Kejadian demi kejadian, tawa dan air mata yang bergantian membuat kami menjadi lengket satu sama lain. Banyak sekali kisah kisah yang tak mampu dirapal oleh jemariku yang terjadi diantara hari hari kami di sana. Hingga tak terasa, kebersamaan kami saat itu masih berada pada dimensi waktu yang senantiasa bergulir dan berlalu.
Suatu hari yang dijanjikan datang. Ya, hari saat toko akan dibuka. Hati kami bergetar sesaat. Tak membayangkan bagaimana kami akan berpisah, dunia yang akan kami masuki nanti, dan masihkah kita bisa bersua. Keraguan masih membayang, saat satu persatu diri kami diambil oleh para pembeli. Saat satu persatu pergi, hatiku terasa sangat sakit seperti ditusuk tusuk, tapi lisan dan ragaku kelu. Air mataku sulit keluar, bahkan untuk merembes pun ia tak bisa. Dalam sehari, separuh lebih dari kami sudah laku, semua sudah pulang ketempat yang telah Rabb kami takdirkan. Hari hari berikutnya kami semakin berkurang. Terakhir kali saat aku di sana, aku mendului beberapa kawanku yang lain. Ya, sebagai bubble gum aku juga segera diambil oleh pembeli. Aku juga berpisah dengan mereka. Aku juga meninggalkan toples tempat kebersamaan kita.
Waktu belum membeku, ia masih mengalir mendimensi seluruh ruang hidupku. Setelah keluar dari toples, aku enggan mengiaskan diri dan teman temanku sebagai bubble gum lagi. Kini kami menjadi manusia saja. Biarkan kisah bubble gum berakhir di hari terakhir perjumpaan kita.
Walau kisah bubble gum sudah berakhir, kisah kita belum berakhir. Kini aku tau, tiap tiap dari kami sedang berjuang di dunia “lain”. Memperjuangkan apa yang disebut sebut manusia sebagai kehidupan, atau masa depan. Terserah, kehidupan dan masa depan siapa. Tapi sepertinya, dulu kita berjanji pada “pemilik toko”? ah bukan! Bukan pemilik toko. Tapi kami berjanji pada seseorang yang telah mendidik kami dan menyatukan hati hati kami, untuk memperjuangkan kehidupan dan masa depan keyakinan kami di “dunia” lain ini. Masa depan dan keberlangsungan keyakinan yang tak dapat kami gadai dengan apapun! Bahkan dengan seisi dunia dan seluruh perhiasannya....!
Para “pembeli” bubble gum lah yang menjadi guide serta pengasuh sejati kami. Kini beban kami banyak. Tapi diantara beban beban itu ada yang bisa ku muat dalam tulisan di sini. (Apa??) Ah, tak jadi saja jika begitu. Biarlah ku utarakan sebuah gejolak yang merusak tatanan rapi beban beban yang wajib segera kami selesaikan itu. Gejolak apa selain gejolak rindu yang bisa meluluh lantakan serentetan kesibukan kami di dunia “lain” ini coba?? Hhhh.. jelas tak ada. Ya, hanya rindu namanya. Dialah pengacau schedule kesibukan dan beban kami.
Ah,, cukup sekian. Biar kalian lanjutkan sendiri kisah kami ini. Kisah yang kan ku beri judul “Dimensi Pemersatu” ini. Dimensi pemersatu hati hati kami saat jarak dan waktu menjauhkan kami. Ya dialah rindu, sang pemersatu.



0 komentar:

Posting Komentar