attendant la lune dans la soumission Dieu Allah je me rends

Lembayung

terkadang kekuatan dan bakat terpendam akan nampak disaat terjepit.

benar begitu bukan?

tuan, aku bukan pengagummmu. bukan pemerhati mu. tapi aku terlanjur tau sedikit tentangmu. boleh aku memujinya? kesedikitan itulah yang mendorongku untuk menulis ini.

tuan, tetaplah engkau di sana. tegar bak karang diterjang ombak lelautan serta samudera.

tuan, biarlah berlalu sebuah kebingungan yang membuatmu menggigil bila menemui kejelasan. maka tetaplah di sana. menunggu waktunya tiba. sehingga engkau harus beranjak menujunya.

tuan, panggilan undang undang agama itu raja, maka dahulukanlah. lawan saja nafsu dan hawa dalam jiwamu.

tuan, lihatlah seseorang dari kelakuan dan tutur katanya saja. fisik itu nomor sekian.

tuan, manakala rembulan merekah. dan lembayung orange membumbung di samudera tertinggi di timur matahari. saat itu, kau harus memenuhi keinginan hati. ya, turuti hatimu yang rindu pada kalamNya. rapali mereka dengan setulus kalbumu.

tuan, letak kebahagiaan hakiki di dunia fana ini adalah, saat kau berhenti mengejar dunia. dan hatimu tertumbuk pada satu keabadian. ya, perjuangan untuk bertemu pujaan hati, Kekasih Allah, Muhammad Al Musthofa.

tuan, jangan menyerah. kehidupan seorang mukmin bukanlah di dunia ini. maka, mintalah firdausNya yang abadi.

tuan, jika kau takut mati. lalu apa yang kau takukan dari sebuah perjalanan untuk menuju Rabb semesta alam?

Jangan takut kematian. sungguh dunia ini bukan tempat tinggal kita. jangan berhenti meminta firdausNya. dan jangan berjalan menuju pintu murkaNya. jahannam itu juga bukan tempat kembali kita.

*kala lembayung Fajar menyingsing di bumi_Nya
SRGN. 26. Aprl. 16

1 komentar: