attendant la lune dans la soumission Dieu Allah je me rends

Hasrat dan Perjuangan

Hasratku membuncah..
Ingin kuluah segala yang terasa di lorong jiwa. Segenap resah tentang selarik makna kehidupan. ya. Segala tindakan menuntut pertanggungjawaban. Paralel perjuangan ini, kepada siapa diteruskan. Estafet ini menunggu giliranku. Di pundak dan tangan ini? Sanggup??
Jangan hanya berbicara dan mengumpat. Merengek, mengemis, dan meminta keringanan. Jika ini berat, YA MEMANG! ‘Inilah jalan kita, nak!’ suatu waktu abah menegurku. “Teruslah bertahan, jangan kecewakan.” Di lain kesempatan ia melanjutkan.
Memang petuah-petuah tersebut berkesinambungan. Mirip konsep tanzil wahyu-Nya, Al-Qur’an. Ia turun membasuh jiwaku saat kering, menentramkan kegalauan. Ya.
Memang baru dua larik yang sempat beliau wajangkan. INI JALAN KITA & TERUSLAH BERJUANG. Kadang, aku menanti larik nasehatnya yang lain, tentang perjuangan ini, tentang perjalanan iqomatuddin ini.
Namun, seringkali aku tertuntut untuk membentuknya sendiri. Bait-bait yang menentramkan jiwa. Bait-bait yang HARUS membuatku terbiasa dalam jalan berduri ini.
Duhai abah, kini anakmu tengah merangkak menuju tangga perjuangan selanjutnya. Fase-fase kehidupan yang memang harus kulalui. Semoga telapak kaki ini lekas terbiasa berjalan di atas duri-duri perjuangan. Dan semoga, ranjau-ranjau keputusasaan selalu mampu ku lumpuhkan.
Abah, inilah aku. Putrimu yang sedang belajar dewasa. Jangan lelah untuk terus membimbingku. Karena aku masih sama seperti saat pertamakali kau gendong, belum tahu apa-apa. Lugu dan polos, belum mengenal kehidupan. Abah, maafkan segala tingkahku yang sering menyakitimu. Semoga pengorbananmu, untuk perjuangan ini berbuah manis di masa mendatang. Aamiin.... J


Putrimu,

Sragen, 13 April 17

~Lembah perjuangan~



0 komentar:

Posting Komentar